Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 22 Juli 2011

BIOGRAFI KH. M.ARWANI AMIN AL HAFIDZ (KUDUS)

ASSALAMU'ALAIKUM WR.WB.                                                                                                                                                                          Selamat pagi para ihkwan dan ahkwat bloger dan netter's yang berbahagia heheheheheheh....... kayak mau ceramah aja        
        di pagi yang cerah ini kita posting biografi seorang alim  ulama' dari kota kretek(KUDUS)jawteng beliau adalah.KH. M. ARWANI AMIN AL HAFIDZ/MBAH ARWANI (Sosok Alim, Santun dan Lembut)
==================================================================
       Yanbu’ul Qur’an Adalah pondok huffadz terbesar yang ada di Kudus. Santrinya tak hanya dari kota Kudus. Tetapi dari berbagai kota di Nusantara. Bahkan, pernah ada beberapa santri yang datang dari luar negeri seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.Pondok tersebut adalah pondok peninggalan KH. M. Arwani Amin. Salah satu Kyai Kudus yang sangat dihormati karena kealimannya, sifatnya yang santun dan lemah lembut.KH. M. Arwani Amin dilahirkan dari pasangan H. Amin Sa’id dan Hj. Wanifah pada Selasa Kliwon, 5 Rajab 1323 H., bertepatan dengan 5 September 1905 M di Desa Madureksan Kerjasan, sebelah selatan masjid Menara Kudus.Nama asli beliau sebenarnya Arwan. Tambahan “I” di belakang namanya menjadi “Arwani” itu baru dipergunakan sejak kepulangannya dari Haji yang pertama pada 1927. Sementara Amin bukanlah nama gelar yang berarti “orang yang bisa dipercaya”. Tetapi nama depan Ayahnya; Amin Sa’id.

     KH. Arwani Amin adalah putera kedua dari 12 bersaudara. Saudara-saudara beliau secara berurutan adalah Muzainah, Arwani Amin, Farkhan, Sholikhah, H. Abdul Muqsith, Khafidz, Ahmad Da’in, Ahmad Malikh, I’anah, Ni’mah, Muflikhah dan Ulya.Dari sekian saudara Mbah Arwani (demikian panggilan akrab KH. M. Arwani Amin), yang dikenal sama-sama menekuni al-Qur’an adalah Farkhan dan Ahmad Da’in.Ahmad Da’in, adiknya Mbah Arwani ini bahkan terkenal jenius. Karena beliau sudah hafal al-Qur’an terlebih dahulu daripada Mbah Arwani. Yakni pada umur 9 tahun. Ia bahkan hafal Hadits Bukhori Muslim dan menguasai Bahasa Arab dan Inggris. Kecerdasan dan kejeniusan Da’in inilah yang menggugah Mbah Arwani dan adiknya Farkhan, terpacu lebih tekun belajar.Konon, menurut KH. Sya’roni Ahmadi, kelebihan Mbah Arwani dan saudara-saudaranya adalah berkat orangtuanya yang senang membaca al-Qur’an. Di mana orangtuanya selalu menghatamkan membaca al-Qur’an meski tidak hafal. Selain barokah orantuanya yang cinta kepada al-Qur’an, KH. Arwani Amin sendiri adalah sosok yang sangat haus akan ilmu. Ini dibuktikan dengan perjalanan panjang beliau berkelana ke berbagai daerah untuk mondok, berguru pada ulama-ulama. Tak kurang, 39 tahun beliau habiskan untuk berkelana mencari ilmu. Diantara pondok pesantren yang pernah disinggahinya menuntut ilmu adalaj pondok Jamsaren (Solo) yang diasuh oleh Kyai Idris, Pondok Tebu Ireng yang diasuh oleh KH. Hasyim Asy’ari dan Pondok Munawir (Krapak) yang diasuh oleh Kyai Munawir.Selama menjadi santri, Mbah Arwani selalu disenangi para Kyai dan teman-temannya karena kecerdasan dan kesopanannya. Bahkan, karena kesopanan dan kecerdasannya itu, KH. Hasyim Asy’ari sempat menawarinya akan dijadikan menantu. Namun, Mbah Arwani memohon izin kepada KH. Hasyim Asy’ari bermusyawarah dengan orang tuanya. Dan dengan sangat menyesal, orang tuanya tidak bisa menerima tawaran KH. Hasyim Asy’ari, karena kakek Mbah Arwani (KH. Haramain) pernah berpesan agar ayahnya berbesanan dengan orang di sekitar Kudus saja.Akhirnya, Mbah Arwani menikah dengan Ibu Nyai Naqiyul Khud pada 1935. Bu Naqi adalah puteri dari KH. Abdullah Sajad, yang sebenarnya masih ada hubungan keluarga dengan Mbah Arwani sendiri. Dari pernikahannya dengan Bu Naqi ini, Mbah Arwani diberi empat keturunan. Namun yang masih sampai sekarang tinggal dua, yaitu KH. M. Ulinnuha dan KH. M. Ulil Albab, yang meneruskan perjuangan Mbah Arwani mengasuh pondok Yanbu’ sampai sekarang. Yah, demikian besar jasa Mbah Arwani terhadap Ummat Islam di Indonesia terutama masyarakat Kudus, dengan kiprahnya mendirikan pondok yang namanya dikenal luas hingga sekarang.Banyak Kyai telah lahir dari pondok yang dirintisnya tersebut. KH. Sya’roni Ahmadi, KH. Hisyam, KH. Abdullah Salam (Kajen), KH. Muhammad Manshur, KH. Muharror Ali (Blora), KH. Najib Abdul Qodir (Jogja), KH. Nawawi (Bantul), KH. Marwan (Mranggen), KH. Ah. Hafidz (Mojokerto), KH. Abdullah Umar (Semarang), KH. Hasan Mangli (Magelang), adalah sedikit nama dari ribuan Kyai yang pernah belajar di pondok beliau. Kini, Mbah Arwani Amin telah tiada. Beliau meninggal dunia pada 1 Oktober 1994 M. bertepatan dengan 25 Rabi’ul Akhir 1415 H. Beliau meninggal dalam usia 92 tahun. Namun, meski beliau telah meninggal dunia, namanya tetap harum di hati sanubari masyarakat. Pondok Yanbu’ul Qur’an, Madrasah TBS, Kitab Faidlul Barakat dan berbagai kitab lain yang sempat ditashihnya, menjadi saksi perjuangan beliau dalam mengabdikan dirinya terhadap masyarakat, ilmu dan Islam.                                                                                                           Demikian lah sejarah singkat hadratussaikh al alim alamah KH.M.ARWANI AMIN AL HAFIDZ .kudus.       semoga kita semua dapat mengambil hikmah dan manfa'at dari beliau. amin allahumma amin.          WASSALAMU'ALAIKUM WR.WB..

Kamis, 02 Juni 2011

setetes air hujan

Dlm keheningan mlam
q t'paku n t'pana
oleh cipta'an
sang maha kuasa

mata enggan terpejam
teringat kenangan
b'sma dirina

sepi tiada kwan
senxap tnpa adanxa
teman
bgai gelap y snantiasa
setia temani mlam

kpnkah akn dtang
cahaya y m'mpu
mnerangi hati ini
mjd pelita hdup ini

walau hanxa sekejap
sperti angin b'lalu
namun dirimu ttp nanti n ku tunggu

meski or9 b'kata
"itu bohong..,
smua itu mustahil...!!
Mana ada cinta y p'gi akn kembali...??

Ttapi bgiku....
"cinta sejati bgai tetesan air hujan..,

t'mmpu se"or9 tuk menolak kdatanganxa
t'tau kpn ia akn reda
meski t'mungkin akn kembali kelangit

Q ttp yaQin, bahwa cinta dtg membawa keindahan
& p'gi tinggalkan kebahagia'an

sperti hujan y d awali
oleh te"san air suci
serta d akhiri dgn pesona warna pelangi
sperti itu pula
cinta sejati"...

"Ya rabbi inni syauqi
£i£mahbubati wa as'aluka roitu ilaiha walau filmanami"
amiin y robbal alamin

Senin, 16 Mei 2011

PONPES HUFFADZ PUTRA-PUTRI " SABILUR ROSYAD " KUDUS

A. Sejarah
Ulama' adalah penerus perjuangan para nabi dan rasul. Sebagai tiang relegi keberadaanya sangatlah dibutuhkan oleh masyarakat luas, selain itu sebagai sosok yang berkepribadian yang berlandaskan syari'at agama memang patutlah dijadikan suri tauladan bagi siapa saja dalam menjalani kehidupan ini.
Salah satu ulama' karismatik di kota kudus ini adalah beliau almarhum wal maghfurilah KH. ABAH UMAR MAKIN ABRORI yang akrab disapa Abah Makin.
Beliau lahir di kota wali " Demak " tepatnya di desa Turi Rejo, Kampung Kauman Timur, pada tanggal 20 Desember 1936, beliau adalah putra dari pasangan H. ABRORI dengan Hj. MU'MINAH, putra ketiga dari empat bersaudara. Yaitu :
1. Nyai Aminah ( Bonang, Demak )
2. KH. Nukin Abrori ( KH. Anwar Abrori, Turi Rejo, Demak )
3. KH. Abah Umar Makin Abrori ( Kudus )
4. KH. Umar Makun Abrori ( Guntur Demak )

Kemudian pada tahun 1963 beliau pindah ke Kudus, selang beberapa tahun tepetnya tahun 1987 beliau mendirikan sebuah Jam'iyyah Manaqib yang diberi nama Jam'iyyah Manaqib Sabilur Rosyad.